Eskalasi Konflik Agraria di Ruang Digital: Analisis Bingkai (Framing) Media terhadap Sengketa Lahan Proyek Strategis Nasional
DOI:
https://doi.org/10.69688/mekas.v3i1.83Keywords:
konflik agraria, framing media, media digital, sengketa lahan, royek Strategis NasionalAbstract
Eskalasi konflik agraria di Indonesia semakin memperoleh perhatian publik seiring dengan masifnya pemberitaan media digital, khususnya terkait sengketa lahan yang melibatkan Proyek Strategis Nasional. Media digital tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai arena pembentukan makna melalui proses pembingkaian (framing) yang memengaruhi persepsi publik terhadap konflik agraria. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media digital membingkai konflik agraria dalam sengketa lahan Proyek Strategis Nasional serta implikasinya terhadap eskalasi konflik di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing terhadap berita-berita media daring yang dipilih secara purposif. Analisis difokuskan pada pemilihan isu, penonjolan aktor, penafsiran sebab konflik, serta rekomendasi penyelesaian yang ditampilkan dalam teks berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media cenderung membingkai konflik agraria melalui narasi pertentangan antara kepentingan pembangunan negara dan hak masyarakat lokal, dengan penekanan pada aspek konflik, ketegangan, dan kontroversi. Pembingkaian tersebut berkontribusi pada intensifikasi diskursus konflik di ruang digital dan memperkuat polarisasi opini publik. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa framing media memiliki peran signifikan dalam membentuk eskalasi konflik agraria di ruang digital, sehingga diperlukan praktik jurnalisme yang lebih sensitif terhadap konteks sosial dan keadilan agraria dalam peliputan Proyek Strategis Nasional.
References
Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x
Fairclough, N. (1995). Media discourse. London: Edward Arnold.
Gamson, W. A., & Modigliani, A. (1989). Media discourse and public opinion on nuclear power: A constructionist approach. American Journal of Sociology, 95(1), 1–37. https://doi.org/10.1086/229213
Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. London: Sage Publications.
KPA. (2022). Catatan akhir tahun konflik agraria di Indonesia. Jakarta: Konsorsium Pembaruan Agraria.
McQuail, D. (2010). McQuail’s mass communication theory (6th ed.). London: Sage Publications.
Nevins, J., & Peluso, N. L. (2008). Taking Southeast Asia to market: Commodities, nature, and people in the neoliberal age. Ithaca, NY: Cornell University Press.
Sobur, A. (2015). Analisis teks media: Suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, dan analisis framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Van Dijk, T. A. (1998). Ideology: A multidisciplinary approach. London: Sage Publications.
Van Dijck, J., Poell, T., & de Waal, M. (2018). The platform society: Public values in a connective world. Oxford: Oxford University Press.
Waisbord, S. (2018). Truth is what happens to news: On journalism, fake news, and post-truth. Journalism Studies, 19(13), 1866–1878. https://doi.org/10.1080/1461670X.2018.1492881
Wiratraman, H. P. (2014). Hak-hak atas tanah dan konflik agraria di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 17(3), 181–197. https://doi.org/10.22146/jsp.13054
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Media dan Komunikasi (MEKAS)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

