Komunikasi Politik Populisme Digital: Analisis Semiotika Pencitraan Pemimpin Daerah dalam Membangun Kepercayaan Publik di Era Post-Truth

Authors

  • Risky_abdillah Abdillah Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pekabaru

DOI:

https://doi.org/10.69688/mekas.v3i1.82

Keywords:

komunikasi politik, populisme digital, semiotika, pencitraan pemimpin daerah, kepercayaan publik, era post-truth.

Abstract

Fenomena populisme digital telah mengubah lanskap komunikasi politik, khususnya dalam pencitraan pemimpin daerah di era post-truth yang ditandai oleh dominasi emosi, simbol, dan narasi personal dibandingkan fakta objektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi komunikasi politik populis digunakan oleh pemimpin daerah melalui media digital dalam membangun kepercayaan publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika untuk mengkaji tanda, simbol, narasi visual, dan bahasa yang ditampilkan dalam konten komunikasi politik di media sosial. Data penelitian diperoleh dari unggahan media digital resmi pemimpin daerah yang dipilih secara purposif, mencakup teks, gambar, dan video. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencitraan pemimpin daerah dalam populisme digital cenderung menekankan kedekatan emosional, kesederhanaan simbolik, serta representasi diri sebagai figur yang “merakyat” dan anti-elit. Penggunaan simbol budaya lokal, narasi personal, dan visualisasi aktivitas sehari-hari berperan penting dalam membangun persepsi autentisitas dan kepercayaan publik. Namun, temuan juga mengindikasikan bahwa strategi tersebut berpotensi mengaburkan batas antara informasi dan opini, sehingga memperkuat karakter post-truth dalam komunikasi politik. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa populisme digital merupakan strategi komunikasi yang efektif dalam membangun kepercayaan publik secara simbolik dan emosional, tetapi sekaligus mengandung risiko manipulasi makna dan penyederhanaan realitas politik di ruang digital.

References

Barthes, R. (1977). Image, music, text. London: Fontana Press.

Bennett, W. L., & Pfetsch, B. (2018). Rethinking political communication in a time of disrupted public spheres. Journal of Communication, 68(2), 243–253. https://doi.org/10.1093/joc/jqx017

Chadwick, A. (2017). The hybrid media system: Politics and power (2nd ed.). Oxford: Oxford University Press.

Couldry, N., & Hepp, A. (2017). The mediated construction of reality. Cambridge: Polity Press.

Ekström, M., Patrona, M., & Thornborrow, J. (2018). Right-wing populism and the dynamics of style: A discourse-analytic perspective on mediated political performances. Palgrave Communications, 4(1), 1–11. https://doi.org/10.1057/s41599-018-0110-6

Fairclough, N. (1995). Media discourse. London: Edward Arnold.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. London: Sage Publications

Heryanto, A. (2018). Identitas dan kenikmatan: Politik budaya layar Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Moffitt, B. (2016). The global rise of populism: Performance, political style, and representation. Stanford, CA: Stanford University Press.

Mudde, C. (2004). The populist zeitgeist. Government and Opposition, 39(4), 541–563. https://doi.org/10.1111/j.1477-7053.2004.00135.x

Silverman, D. (2015). Interpreting qualitative data (5th ed.). London: Sage Publications.

Street, J. (2019). Politics and popular culture (2nd ed.). Cambridge: Polity Press.

Van Dijck, J., Poell, T., & de Waal, M. (2018). The platform society: Public values in a connective world. Oxford: Oxford University Press.

Waisbord, S. (2018). Truth is what happens to news: On journalism, fake news, and post-truth. Journalism Studies, 19(13), 1866–1878. https://doi.org/10.1080/1461670X.2018.1492881

Downloads

Published

2025-11-28